donderdag, april 28, 2011

LXVIII

Tiba-tiba jendela hatiku terkuak lebar-lebar pagi ini, jendela yang menghadap ke dalam hatimu.
Aku heran melihat bahwa nama yang dengannya engkau mengenaliku tertulis di dedaunan dan bunga-bunga bulan April, dan aku duduk membisu.

Tirai telah disingkapkan sejenak antara lagu-laguku dan lagu-lagumu.
Kudapati bahwa terang pagimu mampat dalam lagu-laguku yang membisu tak dinyanyikan; Kupikir bahwa aku akan mempelajarinya di kakimu - dan aku duduk membisu.

(Musim Panen, R. Tagore)

another day goes by when W scribbled at 12:08 p.m. | 0 comments

zaterdag, september 19, 2009


Ultah pertama


Ulang tahun sebenernya perayaan bersama ibu dan anak, karena kehadiran seseorang di dunia, adalah hasil akhir perjuangan fisik dan mental ibunda yang mempertaruhkan hidup untuk memberi hidup pada si jabang bayi.

Jadi, buat Tonggo tercintah yang hari ini genap 1 thn jadi mama, selamat ulang tahun untuk Dinda, dan untuk mboke juga.

---------

Sajak Ibunda
WS Rendra

Mengenangkan ibu
adalah mengenang buah-buahan.
Istri adalah makanan utama.
Pacar adalah lauk pauk.
Dan Ibu
adalah pelengkap sempurna.
Kenduri besar kehidupan.

Wajahnya adalah langit senjakala :
keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya.
Suaranya menjadi gema
dari bisikan hati nuraniku.

Mengingat ibu,
aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
aku percaya akan kebaikan hati manusia.
Melihat foto ibu,
Aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.

Berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku,
aku pun ingat bahwa kamu juga punya ibu.
Aku jabat tanganmu,
aku peluk kamu di dalam persahabatan.
Kita tidak ingin saling menyakitkan hati,
agar kita kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing
yang selalu, bagai bumi, air dan langit,
membela kita dengan kewajaran.

Maling punya ibu. Pembunuh punya ibu.
Demikian pula koruptor, tiran, facist,
wartawan amplop, dan anggota parlemen yang dibeli,
mereka pun juga punya ibu.
Macam manakah ibu mereka?
Apakah ibu mereka bukan merpati di langit jiwa?
Apakah ibu mereka bukan pintu kepada alam?


Ibu, kini aku mengerti nilaimu.
Kamu adalah tugu kehidupanku,
yang tidak dibikin-bikin dan hambar seperti Monas dan Taman Mini.
Kamu adalah Indonesia raya.
Kamu adalah hujan yang kulihat di desa.
Kamu adalah hutan di sekitar telaga.
Kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
Kamu adalah kidung rakyat jelata.
Kamu adalah kiblat hati nurani di dalam kelakuanku.

another day goes by when W scribbled at 9:56 p.m. | 3 comments

donderdag, juli 09, 2009

Tentang Mimpi

Waktu masih kecil saya pernah ngotot-ngototan dengan seorang dokter gigi. Menurut dia, mimpi manusia itu sama dengan mimpi anjing, tidak berwarna. "Tapi koq mimpi saya berwarna?" tanya saya dengan nada masih ngotot. "Ah nggak mungkin," katanya, "otak manusia tidak secanggih itu."

Yah, namanya juga anak kecil. Saya cuma bisa ngotot tapi gak bisa ngasih argumen ke si dokter gigi. Tapi sejak itu, saya jadi lebih aware dengan mimpi. Bukan hanya itu, saya juga berani ngotot lebih nekad, bahwa mimpi saya berwarna. Karena sesudah percakapan itu, saya bermimpi dililit pakai handuk MERAH TUA. Warna! Saya masih ingat pagi itu ketika bangun tidur, saya langsung teringat pada si dokter gigi. I do dream in colour!

Masalah dengan si dokter gigi berakhir di sini. Kasihanlah kalau mimpinya nggak full-colour. Kemarin dulu saya baca di majalah, memang ada orang yang bermimpi hitam putih, ada yang berwarna. That explains. Tapi yang paling lucu, ada orang yang pernah mimpi pake subtitle. Kocakkkkk!! Jadi mimpinya dalam Bahasa Inggris, tapi subtitle-nya pakai Bahasa Belanda. Katanya itu terjadi setelah dia seharian nonton tivi nyaris non-stop.

Sebenarnya yang paling asik adalah mimpi di mana kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Artinya kita bebas melakukan apa saja, wong cuma mimpi gitu loh. Ternyata ini bisa dilatih, lho. Namanya lucid dreams (kaya di film Vanilla Sky nih). Caranya, kita membiasakan diri untuk setiap kali bertanya pada diri sendiri, ini mimpi atau bukan? Jadi tiap hari kalau ingat, kita melatih pikiran untuk stop dan menganalisa situasi saat itu; mimpi atau bukan. Lama-lama ini akan jadi kebiasaan, dan dalam mimpi kita pun akan melakukan hal yg sama. Jika dalam mimpi kita sadar bahwa kita sedang bermimpi, there's no limit to what you can experience, man!

another day goes by when W scribbled at 8:43 p.m. | 3 comments

maandag, februari 16, 2009

Perpisahan yang mendekat

Di kumpulan mp3 saya ada lagu kaya gini:

ternyata tanpamu langit masih biru
ternyata tanpamu bunga pun tak layu
ternyata dunia tak berhenti berputar
walau kau bukan milikku

Walau konteksnya lain, tapi perasaan ini yang selalu datang ketika menghadapi kemungkinan sebuah perpisahan yang definitif. Dunia tetap sama, ketika bangun tidur masih ada matahari yang bersinar atau akan bersinar. Langit masih biru (kadang-kadang kelabu), tapi semua berjalan normal. Sepertinya. Tapi saya pengen protes; semua nggak baik-baik saja. Ada yang tidak akan berjalan seperti biasanya.

3 Juli 2004. Saya pernah menulis hal yang sama tentang ayah mertua di blog ini. Kini skenario yang sama terulang pada ibu mertua saya. Sepertinya hari ini dia berhenti berjuang dan memasrahkan dirinya pada Yang Punya Hidup. Alasan saya berkesimpulan begini adalah karena dia ingin menerima sakramen terakhir hari Kamis mendatang. Dia yang hidupnya begitu sibuk dan aktif, kini tinggal tubuh kurus yang bertubi-tubi didera obat-obat keras dan morfin penahan sakit. Tidak adil rasanya menyaksikan bagaimana kanker merenggut dan menjauhkannya dari hal-hal yang disukainya, seperti jalan-jalan, nyetir mobil ngiter2, naik sepeda, dansa, rapat ini-itu di organisasi para senior, yoga, berenang, dll. Saya pengen protes melihat situasi seperti ini. Tapi pada siapa?

Beberapa hari yang lalu vonis itu jatuh. Kata dokter, the end is near. Sejak itulah semua menjadi begitu nyata dan dekat. Perpisahan yang tak terhindarkan. Saya benci semua jenis perpisahan, apalagi yang ini. Rasanya seperti meluncur tak terkendali ke satu titik, tanpa bisa berbuat apapun untuk menghindari atau memperlambat lajunya.

Di satu pihak, saya benar-benar tidak ingin kehilangan dia. Tidak mau. Tapi jika melihat begitu kejamnya kanker menggerogoti tubuhnya, betapapun berat rasanya, saya akan merelakan jika perpisahan keparat itu datang. But there's one thing that will not leave me; the memory of her as a caring and loving mother, she who has lived life to the fullest.

Besok matahari masih akan bersinar ....

another day goes by when W scribbled at 8:05 p.m. | 10 comments

vrijdag, januari 30, 2009

Donor

Beberapa minggu lalu saya menerima formulir dari lembaga registrasi donor. Isinya tentang beberapa kemungkinan yang bisa dipilih untuk menjadi donor, atau untuk menolak menjadi donor. Organ-organ yang ingin didonorkan setelah kematian pun bisa dipilih. Mau mendonorkan ginjal saja, misalnya. Bisa. Atau tidak mau mendonorkan organ tertentu, bisa juga.

Bagi saya, pikiran yang terlintas saat itu adalah: kenapa tidak? Kalau sudah mati, semua organ pun tidak dibutuhkan lagi. Mengapa tidak didonasikan pada mereka yang membutuhkan, dan bisa menyambung hidup orang lain lebih lama atau memberi kesempatan hidup yang lebih berkualitas?

Setelah beberapa waktu, formulir itu terlupakan. Sampai hari ini, di tv ada sedikit berita tentang donor, baru saya teringat kembali. Ternyata keputusan untuk menjadi donor menimbulkan diskusi yang panjang dengan H. Ah, betapa egoisnya saya untuk tidak melibatkan dia sama sekali dalam keputusan ini. Dia kan bagian terpenting dari hidup saya, dan jika saya meninggal duluan, dia kan yang akan menanggung konsekuensi terbesar.

Formulir inilah yang akan menjadi penentu semua yang terjadi setelah saya meninggal. Menurut prosedur, jika seseorang meninggal di rumah sakit, dokter yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal harus mengkonfirmasikan nama (mantan) pasien ke donor registrasi, untuk mengetahui dia donor atau bukan. Jika donor, maka proses pengambilan organ yang masih bisa dipakai harus cepat terlaksanakan.

Nah di sinilah masalahnya. Langkah pertama, dokter harus menyatakan bahwa si pasien (saya, dalam kasus ini) mati otak. Dengan demikian secara medis saya "sah" meninggal. Lalu tubuh saya akan dihubungkan dengan alat bantu pernapasan, agar oksigen tetap mengalir di dalam darah dan organ-organ yang bisa didonorkan tidak menjadi rusak. Ini yang menimbulkan pertanyaan. Jika tubuh secara fisik masih berfungsi, walaupun dengan bantuan alat bantu pernapasan, apa bedanya dengan keadaan koma? Dan di manakah batas antara koma dan meninggal, dan siapa yang memutuskan hal itu? H keberatan kalau dokter yang memutuskan. He wants to decide for me, or at least involved in the decision. Saya jadi pengen nangis.

Oke, jadi opsi yang saya pilih di formulir sekarang akan berubah. Ada opsi yang memungkinkan kita menunjuk seseorang untuk memutuskan tentang ini, setelah kita meninggal. Jadi saya isi nama H di situ.

Sekarang formulirnya sudah dikirim secara online. Dan sekalian tadi saya cari info tentang definisi keadaan mati otak. Kalau diliat sih, ternyata H has nothing to worry about. Karena menurut definisinya, keadaan mati otak dan koma ternyata berbeda. Pada keadaan koma, masih ada kegiatan "elektrisitas" di otak dan pada keadaan mati otak tidak. So, that's it. Tapi saya merasa lebih lega karena tidak meng-exclude H dari proses ini. Karena kan nantinya dia yang harus live with that, if I were to die first.

another day goes by when W scribbled at 8:15 p.m. | 4 comments

zondag, januari 18, 2009


Bikin bibimbap


Gara-gara suka nonton videonya Maangchi gw jadi pengen bikin2 masakan Korea. Yang ini dulu sekali udah pernah makan, tapi udah lama banget. Dan bahan2 yg mo dibikin pun gak lengkap. Tapi lumayan lah, daripada gak ada, hehe.. H juga bisa makan tuh ternyata, gw udah takut dia kepedesan. Taunya gak begitu pedes koq, pasta cabenya. Berhasil lah. Lain kali dimiripin bahan2nya, ini sih cuma bahan yg ada di kulkas dan freezer sajah. Gw pake frozen peas, nori, daging cincang, jamur, dan daun bawang.


Resep otentiknya liat di websitenya Maangchi deh. Ini penampakan yg udah diaduk.

another day goes by when W scribbled at 3:05 p.m. | 3 comments

donderdag, januari 15, 2009

Dawkins


Kata Richard Dawkins, yg ngarang buku "The God Delusion", kalo buku ini berfungsi sesuai dengan yang direncanakan, maka orang yang membacanya bakal jadi atheis.

Nah lo, bikin penasaran gak? Waktu itu gw liat ttg Dawkins dan teori evolusi di internet. Golongan evolusionist adalah mereka yang berpegang pada teori bahwa manusia adalah proses evolusi jutaan tahun. Sedangkan para creationist percaya bahwa manusia diciptakan Tuhan, sesuai dengan Kitab Suci.

Gw gak tau pasti tp sepertinya buku ini gak akan boleh beredar di Indo, ya? Abis provokatif gini. Tp sepertinya menarik buat dibaca, pengen tau juga argumen2nya.

Bbrp hari yg lalu buku ini dateng, krn gak ada di perpus kampung gw, jadi harus dipesan dari perpus kampung lain. Gw punya waktu 3 minggu untuk nyelesaiin baca. Bisa diperpanjang sih, dengan alasan gak ada pemesan lain.

Satu lagi kutipan provokatif (tp Dawkins ngutip juga dari orang lain): When one person suffers from a delusion, it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called Religion.

another day goes by when W scribbled at 5:09 p.m. | 3 comments