maandag, februari 16, 2009

Perpisahan yang mendekat

Di kumpulan mp3 saya ada lagu kaya gini:

ternyata tanpamu langit masih biru
ternyata tanpamu bunga pun tak layu
ternyata dunia tak berhenti berputar
walau kau bukan milikku

Walau konteksnya lain, tapi perasaan ini yang selalu datang ketika menghadapi kemungkinan sebuah perpisahan yang definitif. Dunia tetap sama, ketika bangun tidur masih ada matahari yang bersinar atau akan bersinar. Langit masih biru (kadang-kadang kelabu), tapi semua berjalan normal. Sepertinya. Tapi saya pengen protes; semua nggak baik-baik saja. Ada yang tidak akan berjalan seperti biasanya.

3 Juli 2004. Saya pernah menulis hal yang sama tentang ayah mertua di blog ini. Kini skenario yang sama terulang pada ibu mertua saya. Sepertinya hari ini dia berhenti berjuang dan memasrahkan dirinya pada Yang Punya Hidup. Alasan saya berkesimpulan begini adalah karena dia ingin menerima sakramen terakhir hari Kamis mendatang. Dia yang hidupnya begitu sibuk dan aktif, kini tinggal tubuh kurus yang bertubi-tubi didera obat-obat keras dan morfin penahan sakit. Tidak adil rasanya menyaksikan bagaimana kanker merenggut dan menjauhkannya dari hal-hal yang disukainya, seperti jalan-jalan, nyetir mobil ngiter2, naik sepeda, dansa, rapat ini-itu di organisasi para senior, yoga, berenang, dll. Saya pengen protes melihat situasi seperti ini. Tapi pada siapa?

Beberapa hari yang lalu vonis itu jatuh. Kata dokter, the end is near. Sejak itulah semua menjadi begitu nyata dan dekat. Perpisahan yang tak terhindarkan. Saya benci semua jenis perpisahan, apalagi yang ini. Rasanya seperti meluncur tak terkendali ke satu titik, tanpa bisa berbuat apapun untuk menghindari atau memperlambat lajunya.

Di satu pihak, saya benar-benar tidak ingin kehilangan dia. Tidak mau. Tapi jika melihat begitu kejamnya kanker menggerogoti tubuhnya, betapapun berat rasanya, saya akan merelakan jika perpisahan keparat itu datang. But there's one thing that will not leave me; the memory of her as a caring and loving mother, she who has lived life to the fullest.

Besok matahari masih akan bersinar ....

another day goes by when W scribbled at 8:05 p.m.

10 Comments:

Anonymous Anoniem said...

Veel strekte wen, mungkin ada sisi lain yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu menikmati hidup ini selagi masih bisa, menghargai waktu yang bisa kita nikmati bersama dengan orang yang dicintai.
Mungkin untuk mama mertua bisa bertemu suaminya lagi.

Do't forget that You have a friends who will support you through your hardest time in ur life.

Leni

9:47 p.m.

 
Blogger njun said...

Tabah ya Wen.

9:04 a.m.

 
Anonymous bu rah said...

Wen...ogut gak pandai berkata-kata. Tapi turut merasakan apa yg kau rasakan. Semua benci perpisahan, apalagi dengan orang yg kita sayang.. Relakan ya Wen..pasrah dan sabar..

9:06 a.m.

 
Anonymous Anoniem said...

bang njek,

gw ikut mendoakan utk ibu mertua .. semoga beliau mendapat yg terbaik .. apapaun akhirnya semoga itu tidak membuatnya lebih menderita lagi .. my thoughts and prayers go out with her and your family! be strong yaa!! *hugz*

*bu rem*

9:07 a.m.

 
Anonymous Anoniem said...

bang, be strong ya..get ready aja sewaktu2 perpisahan itu benar terjadi, kayanya klo udah begini emang ga ada yg bisa dilakuin selain pasrah en spend more times sama mama mertua..ingat2 good memoriesnya, mama mertua udah cape jg kali ya sama penyakitnya

MC

9:08 a.m.

 
Anonymous emaknya A said...

Wen, jangan sedih ya. Lebih sedih kalo kita lihat Beliau menderita seperti sekarang. God Bless Her always...

Katanya.... Perpisahan adalah masalah waktu, cepat atau lambat kita semua akan mengalaminya.

9:15 a.m.

 
Anonymous Anoniem said...

yg kuat ya tong, utk hubki jg.
puas2in sama dina. kalo ada apa2, ada 2 tempat sampah yg siap menampung uneg2mu. jgn sungkan2 ya.

++tongbem

9:55 a.m.

 
Anonymous rieke said...

memang pilihan yang sulit, melihat orang yang kita kasihi menderita, disisi lain kita ga mau berpisah dengannya.. semoga semua yang terbaik ya wen, ikhlas kata kuncinya *tapi gw juga mungkin kalau diposisi kamu, ga bisa*

10:50 a.m.

 
Blogger edc^wolsink said...

Yang tabah ya ci:)
Life is unpredictable.
Hidup didunia ini bagaikan sebuah drama. Tiap episodenya mempunya laju.. datar,tinggi sampai klimaks yang bisa mengakhiri lakon kita dalam episode itu.
Perpisahan mana ada yang enak.Kalau bisa membeli kehidupan abadi dengan uang saya yakin banyak manusia yang berlomba-lomba untuk ngantri. Tp sbg umatNYA yang percaya kita tahu tidak ada yg abadi didunia ini selain DIA.
Maka selagi kita masih diberikan kepercayaan utk ttp berlakon dalam setiap episode hidup ini,marilah kita menjalankanya dengan kesungguhan,ketekunan,perhatian dan kepekaan terhadap sesama.
Kalau memang sudah waktunya IKHLAS kan, Tuhan punya rencana disetiap umatnya. Semangat ya ci!!

-edcW-

11:32 a.m.

 
Anonymous Anoniem said...

*narik napas panjang*
Yang sabar ya bang...,

mona

4:49 a.m.

 

Een reactie plaatsen

<< Home