maandag, april 26, 2004

Janjian

Siapa sih yang memberi instruksi para bunga untuk mekar pada waktu yang bersamaan? Padahal mereka tumbuh berjauhan. Bunga tulip di halaman rumah saya dan bunga tulip yang saya temui di padang kemarin, semua berada dalam taraf kemekaran yang sama. Seperti janjian.
Saya terkagum-kagum sama Yang Di Atas, yang punya jadwal mekar setiap bunga. Mungkin sampai hitungan sepersekian detik. But there must also be a logical explanation behind this. Apa sih yang membuat mereka tepat pada waktunya mekar? Temperatur? Jumlah sinar matahari? Kadar air di tanah? Isyarat dari tanaman lain?
Saat memandang bunga-bunga yang bermekaran, pikiran saya selalu lari ke tulisan Rabindranath Tagore yang sering sekali saya baca tapi gak pernah bosen:

Sekolah Bunga

Ketika awan-awan badai bergemuruh di langit dan hujan bulan Juni turun.
Angin timur yang lembab datang mengusir panas dan meniup suling-silingnya di antara rumpunan bambu.
Kemudian rumpunan bunga-bunga tiba-tiba keluar dari tempat yang tak seorang pun tahu, menari-nari di atas rerumputan dengan kegembiraan yang liar.
Bunda aku membayangkan bunga-bunga itu pergi ke sekolah bawah tanah.
Mereka belajar dengan pintu tertutup, dan jika mereka keluar bermain sebelum waktunya, gurunya menghukum mereka berdiri di pojok ruang kelas.
Bila hujan turun mereka menikmati hari liburnya.
Cabang-cabang pohon saling bergesekan di hutan, dedaunan gemerisik diterpa angin kencang, awan-awan yang bergemuruh menepuk-nepukkan tangan raksasanya dan anak-anak bunga itu akan bergegas mengenakan gaun berwarna merah muda, kuning, dan putih.
Apakah engkau tahu, ibunda, rumah mereka ada di langit, di tempat bintang-bintang.
Tidakkah engkau lihat alangkah inginnya mereka tinggal di sana?
Tidakkah engkau tahu mengapa mereka tergesa-gesa?
Tentu saja, aku dapat menebak untuk siapa mereka melambaikan tangan: mereka mempunyai ibu seperti aku mempunyai ibuku sendiri.

another day goes by when W scribbled at 8:59 a.m. | 0 comments

zaterdag, april 24, 2004

Sunyi yang bercerita

Selama seminggu ini koq pikiran saya dipenuhi dengan museum. Di booklet kecil yang saya peroleh minggu lalu, ada alinea yang membuat saya memandang museum dari sudut pandang baru. Alinea itu bertutur tentang benda-benda koleksi museum yang semuanya bercerita tentang suatu hal. Kejadian di masa lalu, kehidupan di masa depan atau dunia lain yang mungkin terluput dari perhatian.

Museum bukan hanya tempat berbagai benda mati berkumpul. Dalam kesunyian mereka bercerita banyak.

Sensasi ini membuat saya seperti terbangun dari tidur. Selama ini saya memandang museum sebagai tempat yang membosankan. Bahkan sejak mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam keseharian sebuah museum pun, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor kecil daripada di ruang pameran mereka.

Sampai Selasa lalu. Ada sesuatu yang lain ketika saya masuk ke ruangan yang rutin saya datangi selama setahun terakhir. Saya datang sebagai pengunjung, untuk memperkaya pikiran dan batin dengan kebudayaan dari dunia lain, dunia suku-suku Indian yang tinggal di Amerika Utara.

Bayangkan, saya bertatap muka dengan tas berburu dari kulit beruang yang dibuat sekitar tahun 1800. Tas kulit coklat dengan motif agak pudar. Dia terlihat tua, tapi tetap berpendar dengan kemegahan. Saya tahu, dia pasti pernah menjadi saksi gegap gempitanya sebuah padang perburuan.

Atau sepatu mocassin kulit yang sudah menjelajahi beberapa prairie sebelum akhirnya tersimpan di museum. Kapak tomahawk, pipa perdamaian ... they've served their functions dan sekarang berada di museum untuk bercerita tentang kejayaannya. Kalau tidak di museum, di mana lagi saya bisa melihat benda-benda ini? Datang langsung ke pemukiman Indian? Rasanya lebih gampang ke museum. :-)

Dan ada lagi yang mengagumkan. Pada permadani tenunan para wanita dari suku Navajo, kadang ditemukan seuntai benang berwarna lain di pinggirnya . Bukan untuk variasi atau karena kehabisan benang ;-), tapi benang itu berfungsi sebagai pintu keluar roh penenun yang membantu setiap proses penenunan. Tanpa pintu itu, roh penenun akan terperangkap dalam sebuah permadani dan tidak bisa lagi membantu mereka untuk menenun permadani baru.

Museum adalah tempat bertemunya dua dunia. Dunia mereka dan dunia saya. Museum mendekatkan jarak yang terbentang di antara keduanya. Saya berterimakasih sudah dicerahkan dengan keberadaan berbagai musea. Mungkin terlambat, tapi saya kini sadar bahwa museum menyimpan cerita yang luar biasa. Dan saya bertekad untuk mengunjunginya lebih sering.

another day goes by when W scribbled at 5:33 p.m. | 0 comments

zondag, april 18, 2004

Atmosfer Masa Lalu

Kemampuan sebuah bangunan untuk bertutur tentang penghuninya memang menakjubkan. Tembok-tembok berlapis kain bercorak barok, permadani tebal dari Kazakhstan yang warnanya mulai pudar, serta pantuan pendar lilin di langit-langit yang penuh lukisan, semuanya menyimpan cerita tersendiri tentang para penghuni masa lalu.

Saya berada di dalam ruangan yang sarat dengan bayangan masa lalu. Dalam keremangan, aroma masa lalu menyeruak liar dari buku-buku dengan halaman-halaman yang menguning dan tulisan dengan tinta yang mulai pudar. Aroma masa lalu menembus indera penciuman dan bermain-main dengan imajinasi saya. Susah mendeskripsikan bagaimana bau khas suatu ruangan kuno berumur lebih dari 300 tahun mampu bercerita dan membawa pikiran saya begitu jauh berjalan.

Rasanya asyik juga menikmati sensasi seperti itu. Sebenarnya saya datang untuk sebuah pengalaman visual. Ternyata sensasi yang datang lewat indera penciuman itu lebih kuat berkesan. Rekaman visual mungkin hanya berdiam dalam rasio. Namun sebuah aroma mampu bermain dengan emosi. Intens dan liar.

Hari ini adalah museum weekend. Semua museum di Belanda di weekend ini boleh dikunjungi gratis atau memberi korting besar untuk tiket masuk. Saya dan Huub memilih mengunjungi Istana Het Loo yang juga merupakan museum nasional.

another day goes by when W scribbled at 7:59 p.m. | 0 comments

maandag, april 12, 2004

Rasa otentik

Apa dasarnya sih rasa masakan dibilang otentik? Misalnya, rendang Padang yang mana yang benar-benar rendang Padang? Ada rendang a'la rumah makan A, B, atau C. Semuanya mengaku otentik rasa Padang, wong judulnya Restoran Padang. Yang masak semua orang Padang, mungkin dengan resep warisan dari emak mereka yang notabene orang Padang juga. Trus, kenapa rasanya beda-beda? Bisa nggak sih sebuah restoran mengklaim Authentic Indonesian Cuisine, misalnya. Otentik menurut siapa?

Nah, dibekali semangat mencari rasa selada so'un Thailand yang otentik dan mumpung hari terakhir long weekend, hari ini gw masak bareng si Tukata yang orang Thailand. Referensi gw soal rasa hanya didapat lewat restoran Thailand di sini, yang dicurigai udah disesuaikan banget dengan lidah para londo.

Makanya gw pikir si Tukata jagoan nih, kan orang Thailand. Eh ternyata podo wae. Doi malah belum pernah bikin dan lupa-lupa inget rasa yam woon sen yang asli itu gimana. Jadi berpedoman pada buku masak, jadilah eksperimen yam woon sen kita hari ini. Otentisitas tidak ditanggung. :-)


Yam Woon Sen (Thai glassnoodles salad)

Bahan
  • 60 gr so'un
  • 50 gr daging ayam/babi cincang
  • 100 gr udang kupas
  • 100 gr bawang merah, iris tipis
  • 50 gr tomat, iris tipis
  • 30 gr daun ketumbar/cilantro/koriander, cincang kasar
  • 2 sdm acar bawang putih, iris halus (optional lho)
  • 1 sdm cabe merah, tumbuk
  • 1-2 sdm gula pasir
  • 2-3 sdm kecap ikan
  • 2-3 sdm air jeruk nipis

    Cara
  • Rendam soun selama 15 menit dalam air dingin. Gunting pendek-pendek kira-kira 10 cm
  • Didihkan 1/4 cup air, masukkan daging cincang dan aduk-aduk 1-2 menit sampai matang. Tiriskan.
  • Dengan cara yang sama, masak udang sampai matang dalam 1 cup air mendidih selama 1 menit. Tiriskan
  • Masukkan soun dalam air mendidih selama beberapa detik, sampai soun menjadi transparan. Tiriskan.
  • Aduk semua bahan jadi satu.
  • Sajikan dingin atau hangat.

another day goes by when W scribbled at 9:07 p.m. | 0 comments

maandag, april 05, 2004

Nyoblos Sendirian

Ih lain deh rasanya pemilu jauh dari rumah. Nyoblos sendirian, gak seru! Lewat pos, lagi. Biar bagaimanapun peristiwa coblos2an adalah peristiwa komunal. Rame-rame ngumpul di lapangan bola, antri di bawah terik matahari pagi. Menunggu nomor urut dipanggil lewat loudspeaker TOA berwarna abu-abu, sambil lirik-lirik tukang jajanan yang mulai mangkal di dekat lapangan. Beda banget ...

another day goes by when W scribbled at 10:42 a.m. | 0 comments

zaterdag, april 03, 2004

Kerja otak vs kerja otot

Kerja pake otak dan kerja pake otot, mana yang lebih enak? Dari segi gengsi, memang kerja pake otak kedengarannya lebih keren karena (biasanya) identik dengan pakaian rapi, kubikel dengan komputer, parfum, AC, dan dasi. Sedangkan kerja otot identik dengan keringat, ban berjalan, mesin-mesin, dan rutinitas.

Jika keduanya dilihat dalam segala kemurniannya sebagai jenis pekerjaan, mana yang daya tariknya lebih tinggi? Jika keduanya berstandar gaji sama dan terlepas dari atribut gengsi, yang mana yang jadi pilihan?

Saya beruntung diberi kesempatan untuk mencoba keduanya. Menelanjangi angan-angan yang bermain di benak saya tentang bagaimana sih rasanya jadi A? Atau jadi B? 'Been there, done that. Semuanya membuat hidup saya semakin kaya. Jika anak cucu saya (atau Jeki :-)) kelak bertanya, I can look back and contently say, "I've lived a rich life."



another day goes by when W scribbled at 9:01 p.m. | 0 comments