zaterdag, september 16, 2006

26 jam lagi

Saat-saat pra-pulkam biasanya diisi dengan penantian jam online check-in buka. Maklum, buat yang bukan member klub penerbangan, bukan penumpang kelas bisnis atau kelas satu, nggak punya account airmiles seperti saya, check-in hanya bisa dilakukan 24 jam sebelumnya. Jadi, sambil berharap-harap cemas tempat duduk incaran masih belom di-tek oleh penumpang lain, saya pamitan. Pulkam buat nge-charge batere dan menepati janji pada tukang siomay, tukang gorengan dan tukang bakso.

Yuk, ah ...

another day goes by when W scribbled at 12:24 p.m. | 9 comments

maandag, september 11, 2006

Hidup dan kematian

Dear Wendy,
I just came back this afternoon.
Thanks a lot for your concern. I do appreciate that.
It's such a heavy and sad trip for me.
We have planned to go to Italy this October, but now it's no more possible.
There are so many terrible things that happened on particular days;
for example the last email he sent me was exactly on our 3-year together anniversary.
I just don't know how I should go further after I lost the man I love so much and the man I want to spend the rest of my life. Everything just seems so difficult.

I wish you and Huub lots of health and happiness together.
I don't think there are more important things than that.
Take care!


Kalau saya jadi yang empunya nasib, mungkin saya langsung mengubah diri jadi kodok. Atau pohon, rumput, semut, yang tidak usah berlama-lama berpikir dan merenungi hidup. Karena saya memang tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya harus meng-handle fluktuasi emosi dan perasaan yang datang silih berganti. Apakah arti hidup dan mati di matamu? Tersentuhkah hatimu dengan kesibukan jiwa-jiwa datang dan pergi? Tidakkah itu membuatmu bertanya dan merenung lebih dalam tentang arti keberadaan dan ketidakberadaan orang-orang yang dalam duniamu? Ah, pusing saya mencoba membayangkannya, suasana konstan seperti itu.

Bahwa hidup itu rentan terhadap perubahan, nenek-nenek juga tahu. Bahwa perubahan datang diiringi emosi yang judulnya senang atau sedih, atau biasa saja, dari kecil juga saya tahu. Tapi tokh nyatanya repot juga menghadapi naik-turunnya dan datang-perginya perasaan-perasaan itu.

Kepergian Bunda Inong dan JW membuat saya lebih mensyukuri waktu yang masih boleh saya habiskaan bersama Huub. Pasti pedih rasanya kehilangan pasangan hidup yang sepenuh hati dicintai, secara mendadak atau tidak. Honestly I don't know how I would react. Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menjalani hidup kembali.

Tokh ada berita menyenangkan. Semalam saya dapat kabar bahwa baby Bruna sudah lahir dengan sukses. Rasanya senang dan terharu mendengar si mama baru berbisik, "Ooh she's so beautiful ..." Welkom, meisje!

another day goes by when W scribbled at 3:16 p.m. | 6 comments