vrijdag, december 30, 2005


Jatuh cinta

Terkadang sebuah tempat bisa membuatmu mabuk kepayang dan berjanji sepenuh hati bahwa suatu hari kau akan kembali padanya. Atau ketika langkahmu menjauh membawamu pulang, engkau merasa bukan lagi manusia yang utuh karena sepotong jiwamu tersangkut di sana.

Bukankah itu sesuatu yang aneh ketika engkau mendapati sejarah hidupmu kini terbagi dua. Masa sebelum dan sesudah pertemuan itu; dan mendapati dirimu lebih menderita didera kerinduan yang dalam sesudah pertemuan itu terjadi, dan berakhir.

Ada tempat-tempat di bumi yang sepertinya tak berhenti memanggil namamu untuk datang kembali padanya. Membisikkan kenangan yang dititipkannya lewat sedesah angin yang membelai keningmu. Atau menitiskan pesannya pada tarian daun yang lepas dari dahan, sebelum dia diam terbaring di tanah untuk selamanya.

...

Mak, kenapa gw jadi sentimentil gini tiap pulang liburan. Barcelona emang bagus sih, pantesan bang Fariz (woo, eighties banget gw) sampe bikin lagu segala. But I can just sense it whenever I'm becoming emotionally acquainted to a place, because then I would start to collect junks. Not only used metro or museum tickets, but also silly little things yang seharusnya masuk tempat sampah, seperti bungkus es krim, label botol air minum, kwitansi makan di restoran, serbet kertas dari kafe, dll.

Oke, cukup. Ngemeng-ngemeng, photosession buat banner baru blog menghasilkan gambar seperti ini. Tp koq gw gendut banget kliatannya, yak?

another day goes by when W scribbled at 6:44 p.m. | 12 comments