maandag, april 26, 2004

Janjian

Siapa sih yang memberi instruksi para bunga untuk mekar pada waktu yang bersamaan? Padahal mereka tumbuh berjauhan. Bunga tulip di halaman rumah saya dan bunga tulip yang saya temui di padang kemarin, semua berada dalam taraf kemekaran yang sama. Seperti janjian.
Saya terkagum-kagum sama Yang Di Atas, yang punya jadwal mekar setiap bunga. Mungkin sampai hitungan sepersekian detik. But there must also be a logical explanation behind this. Apa sih yang membuat mereka tepat pada waktunya mekar? Temperatur? Jumlah sinar matahari? Kadar air di tanah? Isyarat dari tanaman lain?
Saat memandang bunga-bunga yang bermekaran, pikiran saya selalu lari ke tulisan Rabindranath Tagore yang sering sekali saya baca tapi gak pernah bosen:

Sekolah Bunga

Ketika awan-awan badai bergemuruh di langit dan hujan bulan Juni turun.
Angin timur yang lembab datang mengusir panas dan meniup suling-silingnya di antara rumpunan bambu.
Kemudian rumpunan bunga-bunga tiba-tiba keluar dari tempat yang tak seorang pun tahu, menari-nari di atas rerumputan dengan kegembiraan yang liar.
Bunda aku membayangkan bunga-bunga itu pergi ke sekolah bawah tanah.
Mereka belajar dengan pintu tertutup, dan jika mereka keluar bermain sebelum waktunya, gurunya menghukum mereka berdiri di pojok ruang kelas.
Bila hujan turun mereka menikmati hari liburnya.
Cabang-cabang pohon saling bergesekan di hutan, dedaunan gemerisik diterpa angin kencang, awan-awan yang bergemuruh menepuk-nepukkan tangan raksasanya dan anak-anak bunga itu akan bergegas mengenakan gaun berwarna merah muda, kuning, dan putih.
Apakah engkau tahu, ibunda, rumah mereka ada di langit, di tempat bintang-bintang.
Tidakkah engkau lihat alangkah inginnya mereka tinggal di sana?
Tidakkah engkau tahu mengapa mereka tergesa-gesa?
Tentu saja, aku dapat menebak untuk siapa mereka melambaikan tangan: mereka mempunyai ibu seperti aku mempunyai ibuku sendiri.

another day goes by when W scribbled at 8:59 a.m.