zaterdag, april 24, 2004

Sunyi yang bercerita

Selama seminggu ini koq pikiran saya dipenuhi dengan museum. Di booklet kecil yang saya peroleh minggu lalu, ada alinea yang membuat saya memandang museum dari sudut pandang baru. Alinea itu bertutur tentang benda-benda koleksi museum yang semuanya bercerita tentang suatu hal. Kejadian di masa lalu, kehidupan di masa depan atau dunia lain yang mungkin terluput dari perhatian.

Museum bukan hanya tempat berbagai benda mati berkumpul. Dalam kesunyian mereka bercerita banyak.

Sensasi ini membuat saya seperti terbangun dari tidur. Selama ini saya memandang museum sebagai tempat yang membosankan. Bahkan sejak mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam keseharian sebuah museum pun, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor kecil daripada di ruang pameran mereka.

Sampai Selasa lalu. Ada sesuatu yang lain ketika saya masuk ke ruangan yang rutin saya datangi selama setahun terakhir. Saya datang sebagai pengunjung, untuk memperkaya pikiran dan batin dengan kebudayaan dari dunia lain, dunia suku-suku Indian yang tinggal di Amerika Utara.

Bayangkan, saya bertatap muka dengan tas berburu dari kulit beruang yang dibuat sekitar tahun 1800. Tas kulit coklat dengan motif agak pudar. Dia terlihat tua, tapi tetap berpendar dengan kemegahan. Saya tahu, dia pasti pernah menjadi saksi gegap gempitanya sebuah padang perburuan.

Atau sepatu mocassin kulit yang sudah menjelajahi beberapa prairie sebelum akhirnya tersimpan di museum. Kapak tomahawk, pipa perdamaian ... they've served their functions dan sekarang berada di museum untuk bercerita tentang kejayaannya. Kalau tidak di museum, di mana lagi saya bisa melihat benda-benda ini? Datang langsung ke pemukiman Indian? Rasanya lebih gampang ke museum. :-)

Dan ada lagi yang mengagumkan. Pada permadani tenunan para wanita dari suku Navajo, kadang ditemukan seuntai benang berwarna lain di pinggirnya . Bukan untuk variasi atau karena kehabisan benang ;-), tapi benang itu berfungsi sebagai pintu keluar roh penenun yang membantu setiap proses penenunan. Tanpa pintu itu, roh penenun akan terperangkap dalam sebuah permadani dan tidak bisa lagi membantu mereka untuk menenun permadani baru.

Museum adalah tempat bertemunya dua dunia. Dunia mereka dan dunia saya. Museum mendekatkan jarak yang terbentang di antara keduanya. Saya berterimakasih sudah dicerahkan dengan keberadaan berbagai musea. Mungkin terlambat, tapi saya kini sadar bahwa museum menyimpan cerita yang luar biasa. Dan saya bertekad untuk mengunjunginya lebih sering.

another day goes by when W scribbled at 5:33 p.m.