vrijdag, januari 30, 2009

Donor

Beberapa minggu lalu saya menerima formulir dari lembaga registrasi donor. Isinya tentang beberapa kemungkinan yang bisa dipilih untuk menjadi donor, atau untuk menolak menjadi donor. Organ-organ yang ingin didonorkan setelah kematian pun bisa dipilih. Mau mendonorkan ginjal saja, misalnya. Bisa. Atau tidak mau mendonorkan organ tertentu, bisa juga.

Bagi saya, pikiran yang terlintas saat itu adalah: kenapa tidak? Kalau sudah mati, semua organ pun tidak dibutuhkan lagi. Mengapa tidak didonasikan pada mereka yang membutuhkan, dan bisa menyambung hidup orang lain lebih lama atau memberi kesempatan hidup yang lebih berkualitas?

Setelah beberapa waktu, formulir itu terlupakan. Sampai hari ini, di tv ada sedikit berita tentang donor, baru saya teringat kembali. Ternyata keputusan untuk menjadi donor menimbulkan diskusi yang panjang dengan H. Ah, betapa egoisnya saya untuk tidak melibatkan dia sama sekali dalam keputusan ini. Dia kan bagian terpenting dari hidup saya, dan jika saya meninggal duluan, dia kan yang akan menanggung konsekuensi terbesar.

Formulir inilah yang akan menjadi penentu semua yang terjadi setelah saya meninggal. Menurut prosedur, jika seseorang meninggal di rumah sakit, dokter yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal harus mengkonfirmasikan nama (mantan) pasien ke donor registrasi, untuk mengetahui dia donor atau bukan. Jika donor, maka proses pengambilan organ yang masih bisa dipakai harus cepat terlaksanakan.

Nah di sinilah masalahnya. Langkah pertama, dokter harus menyatakan bahwa si pasien (saya, dalam kasus ini) mati otak. Dengan demikian secara medis saya "sah" meninggal. Lalu tubuh saya akan dihubungkan dengan alat bantu pernapasan, agar oksigen tetap mengalir di dalam darah dan organ-organ yang bisa didonorkan tidak menjadi rusak. Ini yang menimbulkan pertanyaan. Jika tubuh secara fisik masih berfungsi, walaupun dengan bantuan alat bantu pernapasan, apa bedanya dengan keadaan koma? Dan di manakah batas antara koma dan meninggal, dan siapa yang memutuskan hal itu? H keberatan kalau dokter yang memutuskan. He wants to decide for me, or at least involved in the decision. Saya jadi pengen nangis.

Oke, jadi opsi yang saya pilih di formulir sekarang akan berubah. Ada opsi yang memungkinkan kita menunjuk seseorang untuk memutuskan tentang ini, setelah kita meninggal. Jadi saya isi nama H di situ.

Sekarang formulirnya sudah dikirim secara online. Dan sekalian tadi saya cari info tentang definisi keadaan mati otak. Kalau diliat sih, ternyata H has nothing to worry about. Karena menurut definisinya, keadaan mati otak dan koma ternyata berbeda. Pada keadaan koma, masih ada kegiatan "elektrisitas" di otak dan pada keadaan mati otak tidak. So, that's it. Tapi saya merasa lebih lega karena tidak meng-exclude H dari proses ini. Karena kan nantinya dia yang harus live with that, if I were to die first.

another day goes by when W scribbled at 8:15 p.m.

4 Comments:

Anonymous Anoniem said...

susah juga ya bang kalo begitu. berat ni tulisannya.
menurutku koma sama mati juga gitu bedanya. koma kan otaknya msh kerja, kalo mati otaknya gak kerja lg. oksigen cuma buat "menghidupkan ato mengaktifkan" organ sampe siap dipindahkan. gitu kali ye

++tongbem

7:36 p.m.

 
Blogger Leniawati said...

not easy to decide it. aku juga dapat cuman lom ku baca. I don't know what should i do.

7:52 p.m.

 
Anonymous Anoniem said...

Dear Wendy, ikut sedih baca soal J. I think that's the best for him.

yuliana

12:53 p.m.

 
Anonymous aida said...

Wen, sampe sekarang aku masih mikir, jadi donor apa ga, jadi, ga jadi, ga ? hhh...

3:26 p.m.

 

Een reactie plaatsen

<< Home