woensdag, november 12, 2003

Sindrom Ngurus KTP

Sebenarnya ini bukan cerita soal ngurus KTP. Tapi mirip-mirip. Pokoknya semua yang berhubungan dengan instansi pemerintah (Indo), di mana kita berada dalam posisi tidak punya alternatif lain, susah untuk protes (karena butuh) dan sebaiknya tidak ngomel meskipun pengen.

Pernah kan ngalamin perasaan itu? Contohnya ngurus KTP. Datang ke kantor kelurahan, antri di depan loket, minta tanda tangan Pak Camat, dll, dsb. Kalo ada yang kurang mesti balik lagi. Pokoknya seakan mati hidup kita tergantung pada siapa yang duduk di belakang loket. Kalau dia bersabda, "A!". Jadilah saya bernasib "A" hari itu. Kalau "B", jadilah saya "B".

Begitulah. Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely. Saya sampai berpikir, coba instansi2 pemerintah itu bisa diprivatisasi. Semua boleh bikin usaha serupa, boleh mencari profit sebesarnya. Kompetisi yang timbul pasti akan menguntungkan kita sebagai pengguna jasa. Hmm... ngimpi aja nih.

(Alasan curhat di atas:

Saya dan Huub akhir November akan ke Indonesia. Beberapa bulan lalu kita dengar di TV dan baca koran bahwa akan ada kebijakan visa untuk masuk Indonesia. Pemegang paspor Belanda akan diwajibkan minta visa, dulunya ini nggak perlu.

  • Jadi kita mulai cari informasi. Klik ke website kedutaan di sini, nggak ada informasi baru.
  • Dua bulan lalu, telfon ke kedutaan. Katanya visa bisa diurus di sini, atau langsung di airport Cengkareng pada hari kedatangan. Mengingat jarak kedutaan dan rumah lebih dari 2 jam pake mobil, tentu saja kita milih opsi ke-2.
  • Satu bulan lalu, untuk mastiin, telfon sekali lagi ke kedutaan. Berita masih sama dengan telfon pertama.
  • Kemarin, atas usul teman, kita telfon lagi ke kedutaan. Ternyata #1 ... sekarang informasi berubah! Visa harus diurus dari sini, prosesnya butuh 10 hari kerja! Untung telfon sekarang, kalau nggak ... mana keburu. Mulai @#$%^^&*&^%
  • Hari ini, gue nemenin Huub ke Den Haag. Jaraknya 2 jam 15 menit. Hari ini kan tanggal 12 November. Jadi perkiraan kita masih lega lah waktunya untuk nunggu si visa selesai.
    Ternyata #2; 2 minggu depan mereka libur Lebaran seminggu. Kedutaan tutup. Dan jangka waktu 10 hari itu jatuh pas di hari pertama mereka libur. Trus gimana dong?
    Ternyata #3: Visa bisa keluar lebih cepat asal bayar tambahan € 20,-. Minggu depan bisa diambil. Apaaaa? Di..am..bil?? Gak bisa dikirim, Bu?
    Ternyata #4: Visa harus diambil sendiri. Kalo ikutin prosedur yang 10 hari, bisa dikirim. Tapi kalau prosesnya yang lebih cepat (yang nambah € 20,- itu), harus diambil. Aneh gak, sih? Jadi minggu depan, harus menempuh jarak 350 km (PP) lagi untuk ngambil visa, sementara itu sebenernya bisa dikirim dengan biaya murah.)

GIMANA GUE GAK BETE!!! They're just too full of surprises.

another day goes by when W scribbled at 9:54 p.m.