vrijdag, maart 14, 2003

Masih tentang ortu

Ada leestekst menarik yang kita bahas di kelas. Isinya penelitian kenapa balita yang udah bisa jalan sendiri, selalu berjalan kira2 2,5 meter di belakang ortu-nya. Bukan karena mereka nggak bisa keep up, karena kalo ortu stop, mereka juga stop. Kalo ortu jalan lambat, mereka juga jalan lambat. They do it in order to get a full visual view of their parents. Karena kalo jalan terlalu dekat, mereka hanya bisa ngeliat betis atau punggung papi dan mami.

Hei, mungkin tema hidup saya dalam minggu ini hubungan anak orang tua, karena saya juga masih berdebar-debar akibat puisi ortu-nya Ernesto. Habis baca puisi itu, saya langsung nilpun mami & papi karena kangen denger suara mereka. Hmm..

I guess in a way, saya tetap balita yang jalan 2,5 meter di belakang mereka. Setelah jauh dari rumah, baru saya bisa melihat mereka secara utuh. Ternyata apa yang ditulis Ernesto bener. My parents know me to well. Meskipun nggak dalam skala fine details, tapi paling nggak mami/papi bisa berempati dengan suasana hati saya. Semakin tua (dan semakin jauh dari rumah) saya jadi semakin sadar, ortu selalu mau yang terbaik buat saya. Sepak terjang saya yang amburadul dan menganggap ortu hidup di dunia yang berbeda, ternyata sekarang terlihat stupid dan childish di mata saya. Ah, kebijaksanaan seorang mami dan seorang papi. Siapa yang bisa ngalahin?

another day goes by when W scribbled at 9:57 a.m.