vrijdag, november 22, 2002
Tentang Musim Semi
Sebentar lagi saya berangkat ke museum bareng Wan Hsiu dan Yvonne. Wah, mesti jalan kaki karena cuma saya yang gak punya sepeda. Tapi kan pulangnya dijemput Huub, jadi asik2 aja, berjalan2 kaki dahulu, naik-naik mobil kemudian. Kita hari ini sudah pake baju rapih dan cantik untuk museum opening. Mudah2an gak boring.
Barusan Laura Fygi nyanyi, I'll sing to him, bring spring to him ... hmmm.. bagus ya kata2 itu, bring spring to him. Saya suka spring, di mana2 warna warni bertebaran. Tahun lalu di hari pertama spring saya tersentuh dengan bunga2 rumput yang bermunculan di taman yang selalu saya lewati tiap siang jam 12.15. Hari itu tiba2 saya melihat bintik2 putih kecil muncul di hijaunya rumput. Ah bagus sekali dan tepat sekali momen-nya dengan hari pertama spring. Apakah bunga2 rumput itu juga tau, "Hei, ini saatnya kita muncul", in all their glory. Saya kepingin bisa melihat bunga2 rumput itu dari kacamata Rabindranath Tagore. "Sekolah Bunga"selalu bikin saya terkagum2 dan senang. Koq bisa ya ada puisi yang ditulis dengan sedemikian penuh cinta dan kenaifan yang tak berbahaya?
Kalo gitu sekarang saya cari dulu deh puisinya.
The Flower-School
When storm-clouds rumble in the sky and
June showers come down,
The moist east wind comes marching over the heath
to blow its bagpipes amongst the bamboos.
The crowds of flowers come out of a sudden,
from nobody knows where,
and dance upon the grass in wild glee.
Mother, I really think the flowers go to school underground.
They do their lessons with doors shut,
and if they want to come out to play before it is time,
their master makes them stand in a corner.
When the rains come they have their holidays.
Branches clash together in the forest,
and the leaves rustle in the wild wind,
the thunder-clouds clap their giant hands and
the flower children rush out i dresses of
pink and yellow and white.
Do you know, mother, their home is in the sky,
where the stars are.
Haven't you seen how eager they are to get there?
Don't you know why they are in such a hurry?
Of course, I can guess to whom they raise their arms,
they have their mother as I have my own.
- Rabindranath Tagore
woensdag, november 13, 2002
Hari pertama saya magang di museum amerika kemarin: ASIK!! Saya eksis karena saya membuat sesuatu. Cogito ergo.. something lah. Ada sepatu lars orang eskimo yang mesti gue pajang di display, gue bikin rada trendy seperti display toko sepatu. jadi gak selalu sepasang sepatu berdiri sejajar dalam posisi "siap grak!" tapi ada yang sambil miring2 atau rada silang kaki. dan guess what.. everybody likes it. and to me pengakuan itu bikin gue tambah hot dalam nganeh2in pakem majangnya museum. nggak kepikir kalo magang di museum bakal fun gini.mozaik kemarin malem udah gue isi pake semen, dan dibiarin semaleman nginep di garasi di samping mobil huub. tadi pagi gue besuk.. lha koq brojol2 tuh semen? tau ah.. ntar lagi deh pulang sekolah gue liat lagi. Apa karena belum kering bener ya. eniwe kemarin timmy ultah gue lupa nilpun euyy.. ingetnya pas udah malem mo tidur. lha.. itu mah waktunya orang2 slipi ngoroxxx!
zaterdag, november 09, 2002
mau ngapain yaaa...ini proyek saya selanjutnya. hari ini nyelesaiin kaca mozaik, tapi gak nendang ah. cuma paduan warna2 aja. gak ada bentuk, gak ada ide. sebenernya ada deh ide dikit, sebagai peringatan dicabutnya 3 gigi bungsu terakhir saya. hik.. jadi ada warna gusi, warna kuning2 jigong, hehe..
o ya proyek mendatang ini bahannya dari kotak bekas cerutu yang dikasih lis, kaca, dan dicat. isinya macem2. heh.. mestinya gigi2 bungsu itu gak gue buang ya. bisa dipajang juga kan di sebelah kaca mosaik peringatan hari cabut gigi.
vrijdag, november 08, 2002
Jembatan Merah
Saya kemarin kepikiran, kenapa jembatan2 kecil di sini warnanya selalu merah menyala? Apa ada kesepakatan bahwa jembatan2 yang melewati kali2 seukuran sekian harus berwarna merah? Untuk visibilitas, estetika, atau kkn sama pabrik cat yang kebanyakan produksi warna merah?
Tapi you know what, merah kan warna komplemennya hijau. Dan jembatan2 ini kebanyakan terdampar di tempat2 sepi di mana populasi pohon jauh lebih banyak dari manusia. Merah dengan backdrop hijau segar, ahh.. nggak ada warna yang lebih cocok dari itu. Coba bayangin, naik mobil lewat jalan2 kecil di sepanjang kali yang lebarnya cuma sepelemparan batu. Pohon-pohon di kanan kiri, rumput, semak2 semua hijau. Tiba-tiba.. bum! muncul si jembatan merah menyala di tengah segala kehijauan. Saya jadi teringat cabe merah di atas cah kangkung ngepul. hmm..
Balik lagi ke jembatan, rasanya nggak ada warna yang lebih membuat si jembatan dan si backdrop sama-sama terlihat bagus. Saya jadi suka menantikan kemunculan jembatan2 merah kecil di tengah kehijauan. Biasanya kombinasinya dengan desau angin di pohon. Tapi sayang (atau malah justru bagus) angin ngak bisa ikut bermain warna. Dia memberi finishing touch tapi dalam bentuk lain untuk sebentuk kenikmatan visual yang menyejukkan mata.
woensdag, november 06, 2002
Hihi.. saya ketemu foto si aa waktu masih kecil. Cute or whatttt?


